

| Lingkar pinggang pria jangan di atas 90 cm |
|
Pendapat bahwa badan gemuk lambang kemakmuran, kini sudah berubah total. Berat badan berlebih justru erat kaitannya dengan penyakit, seperti diabetes melitus, jantung, stroke, radang sendi, dan banyak lagi. Karena itu, bukan hanya wanita, para pria pun giat melakukan banyak hal agar bisa tampil langsing dan lebih menawan. Kegemukan (obesitas) merupakan keadaan berlebihnya lemak tubuh secara absolut maupun relatif. Kelebihan lemak tubuh umumnya mengakibatkan peningkatan berat badan dan indeks massa tubuh (IMT). Perhitungan IMT adalah berat badan dalam kg dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter, atau BB (kg)/(TB (m))2. Dr. Sadoso Sumosardjuno, Sp.KO, dari Klub Aerobik PKO Dr. Sadoso, menyatakan bahwa IMT kurang dari 18,5 dinyatakan kurang. IMT antara 19-25 berarti berat badan sehat atau normal, IMT antara 25 - 30 berarti kelebihan berat badan (overweight), IMT antara 30 - 40 disebut obesitas, dan IMT 40 atau lebih berarti obesitas yang berbahaya. Di Atas 90 Cm Dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, dari Klinik Nutrifit Jakarta, menjelaskan kegemukan yang terjadi pada pria dan wanita berbeda. Pada pria, kegemukan terjadi lebih awal. Kini pria mengalami kegemukan pada usia sekitar 25 tahun. Sebaliknya, pada wanita biasanya setelah 40 tahun atau memasuki masa menopause. Meningkatnya berat badan karena adanya penumpukan lemak. Pada pria, penumpukan lemak terjadi di daerah perut, sedangkan wanita di pinggul dan paha," papar dokter yang anggota ISO (Indonesian Society for the study of Obesity) itu. Dr. Fiastuti menerangkan, patokan kelebihan berat badan untuk orang Indonesia, yakni IMT 23, dan bila IMT mencapai angka 25 sudah bisa dibilang obesitas. Disebut kegemukan bila lingkar inggangnya di atas 90 cm. Indikator ini untuk pria Indonesia. Pria Eropa dinyatakan gemuk bila lingkar pinggangnya 100 cm. Indikator gemuk untuk wanita Indonesia bila lingkar pinggangnya melebihi 80 cm. Penetapan angka 90 cm bagi pria Indonesia karena pada batas angka tersebut, telah ditemukan berbagai risiko penyakit degeneratif, misalnya kadar gula darah melebihi batas normal. Dari berbagai penelitian didapatkan adanya peningkatan risiko diabetes melitus tipe 2 pada orang-orang dengan peningkatan IMT dan lingkar pinggang 90 cm," katanya. Selain itu, ditemukan peningkatan trigliserida yang lebih menonjol dibanding kolesterol total, penurunan HDL (kolesterol baik) dan peningkatan LDL (kolestenol jahat). Kadar lipid serta tekanan darah juga tinggi. Tekanan darah tinggi pada pria dengan lingkar 90 cm mencapai angka 130/85. Penyakit yang berkaitan dengan kegemukan disebut sindroma metabolik. Peduli Perut Ada lima hal yang bisa menjadi indikasi terjadinya sindroma metabolik, yakni berlebihnya ukuran lingkar pinggang, tekanan darah, kadar glukosa darah, kadar HDL, dan kadar trigliserida. Kalau Anda mengalami tiga hal saja di antara lima indikator tersebut sudah dapat dikatakan Anda menderita sindroma metabolik. ISO juga melakukan penelitian serupa, dengan mendeteksi lewat ukuran lingkar pinggang dan kadar trigliserida. Dengan pemeriksaan dua indikator itu, ketepatan yang didapat hampir 70 pensen, itu di Indonesia. Kalau yang di Kanada sekitar 80 persen, ungkapnya. Sebetulnya tidak sulit untuk mengetahui ada-tidaknya sindroma metabolik. Dari situ para pria pun semestinya tidak sulit menghindari risiko terkena sindroma tersebut. Sayangnya, saat ini masih banyak pria yang kurang peduli dengan berat tubuhnya yang terus meningkat. Perut gendut bukan tanda kemakmuran, tetapi penyakit. Kencangkan ikat pinggang itu bukan slogan, malah sebenar-benarnya harus dilakukan, tambahnya. Indikator kegemukan dengan mengukur lingkar pinggang adalah cara mudah yang bisa dilakukan siapa saja. Cara ini cukup baik karena mampu menunjukkan seseorang disebut obesitas abdominal (sentral) atau bukan sentral. Pria dengan kelebihan berat badan terkesan membawa beban. Secara mekanik, kelebihan berat badan akan memengaruhi tulang belakang dan persendian kaki. Pria dengan kelebihan berat badan (obesitas) akan mengalami gangguan oksigenisasi ke otak. Gangguan lain adalah pernapasan, biasanya berupa henti napas sewaktu tidur (sleep apnea) dan sindrom hipoventilasi obstruktif (SHO) akibat tertutupnya saluran napas oleh lemak leher. Pria obesitas secara kualitas tidurnya kurang baik, meski secara kuantitas lebih banyak karena sering terbangun di malam hari. Sumber: Kompas Cyber Media |






![]() | Today | 8 |
![]() | Yesterday | 24 |
![]() | All | 9139 |